Open Call/Panggilan Terbuka JOFFIS 2024

JOFFIS - Jogja Fotografis Festival merupakan festival fotografis internasional yang diselenggarakan oleh Ruang MES 56. Festival akan digelar di Yogyakarta pada 19 Agustus-2 September 2024. Festival ini dibangun di atas pemikiran perlunya pemahaman yang lebih luas tentang fotografi; baik secara praktik maupun teoretis, baik di ranah laku publik sehari-hari maupun di ranah wacana intelektual.

Pemahaman fotografi yang lebih luas (di sini kemudian dipakai kata sifat: fotografis) akan membuka wilayah dan perdebatan yang selama ini seakan-akan tidak dianggap sebagai fotografi, yang kemudian mengerucut kepada temuan-temuan fotografi sebagai perspektif dan metode yang memiliki kuasa estetikanya sendiri. Pendekatan ini diperlukan untuk mendorong munculnya bakat dan subjek baru, yang akan mendorong perkembangan wacana dan pasar fotografi, sebagai bagian penting dari industri seni secara umum.

Sebagai sebuah gagasan, fotografis dapat ditemukan di dalam praktik artistik medium lain pula, misalnya seni rupa, seni pertunjukan, bahkan juga sastra. Praktik fotografis di dalam produksi artistik medium lain ini diharapkan bukan semata-mata meminjam produk fotografi sebagai unsur pelengkap karya. Sebaliknya, perspektif fotografis ini justru bisa digunakan sebagai sebuah metode artistik dan sebagai unsur estetika yang otoritatif.

Tema: Matriks

Pasca edisi pertama Jogja Fotografis Festival dengan tema “Bingkai / Frame” digelar, tahun 2024 ini JOFFIS memasuki fase kedua dalam rangkaian 3 tema pembuka festival yaitu “Matriks”.

Secara umum, dalam fotografi, lema matriks mengacu pada cara membingkai objek dengan pendekatan tertentu-menggunakan bantuan garis pembagi baris dan kolom, aspek internal kamera (segitiga eksposur), dan eksternal kamera (posisi kamera di hadapan subjek/objek). Penggunaan matriks ini membantu pengambil gambar untuk bereksperimen dan mencari titik penting dalam pembingkaian subjek/objeknya. Daripadanya, matriks justru tidak sedang memberi batas melalui pengaturan-pengaturan, melainkan menawar kesadaran subjek dalam melihat dunia yang ditatapnya.

Pengertian di atas berkait-kelindan dengan domain sosial, di mana lema matriks sosial memberikan penekanan pada pemetaan atas segala interseksi yang terjadi di belakang panggung; bahwa sosialisasi (nilai, norma, kepercayaan, dan sebagainya) yang diterima individu sepanjang hidupnya akan mempengaruhi bagaimana ia berlaku dan bertindak di lingkungannya. Misalnya, bagaimana pandangan kita atas proyeksi peta dunia ketika mengetahui bahwa proses penyusunannya oleh Gerardus Mercator lekat dengan dominasi kolonial, di mana digambarkannya belahan bumi Utara lebih besar daripada Selatan? Bagaimana matriks atas kekuasaan kolonial bekerja di lanskap tersebut? Atau, contoh lainnya yang lebih dekat dengan keseharian kita: media sosial. Bagaimana menentukan kebenaran objektif dalam sirkulasi informasi serba cepat ketika dibarengi algoritma yang bekerja atas pola konsumsi di internet yang berpotensi menuntun pada jebakan kebenaran subjektif?

Di sisi lain, matriks memiliki peran penting dalam mendefinisikan konteks dari data, misalnya pada geologi dan arkeologi. Istilah matriks digunakan sebagai ‘rumah’ atau ‘gumpalan’ yang mengandung mineral atau artefak, bisa berupa batu maupun tanah. Maka, matriks berkaitan dengan pengaturan atau pengorganisasian pengetahuan dengan konteks, sehingga mengemukakan keterikatan berbagai aspek dalam produksi dan penyebaran pengetahuan.

Berpijak pada lanskap tersebut, dapat diartikan bahwa matriks sebagai spektrum bisa diluaskan dan ditautkan pada ranah apapun; seperti matriks pengetahuan, matriks kekuasaan, matriks kebudayaan, matriks geologi, matriks arkeologi, dan seterusnya. Maka, matriks sebagai salah satu cara menyadari dan memetakan bahwa ada yang bekerja di belakang untuk kemudian mempengaruhi cara pandang kita atas dunia yang ditatap, menekankan pada aspek; a) apa yang membentuk diri kita atau dunia saat ini? b) mengapa penting menyadari posisi kita di tengah hiruk-pikuk tersebut? c) bagaimana negosiasi yang dapat dilakukan atasnya?

Syahdan, tema “Matriks” pada edisi kali ini berusaha mendedah dan memetakan interseksi antar-domain yang mempengaruhi subjek, serta dipresentasikan dalam kerangka fotografis. JOFFIS 2024 mengajak seniman atau praktisi apapun untuk merefleksikan kembali secara kritis atas apa dan bagaimana dunia ini dibentuk dan bekerja; dan pada akhirnya bagaimana subjek memposisikan dirinya sendiri di tengah dunia yang serba- ini.

Karya atau proyek yang dipresentasikan di dalam Jogja Fotografis Festival diharapkan memenuhi dua kriteria sebagai berikut:

— Menunjukkan praktik fotografis sebagai sebuah perspektif, baik di dalam pemilihan subjek dan praktik artistiknya; serta
— Membicarakan tema MATRIKS dalam keluasan makna dan pertautannya; matriks sebagai representasi visual dari hubungan-hubungan, struktur, tabel, organisasi data, peta, algoritma dan jejaring yang diterjemahkan ke dalam subjek karyanya, juga matriks di dalam aspek artistik dan produksi karya seni.
Ketentuan
  1. Panggilan ini terbuka untuk umum, baik dari Indonesia maupun luar negeri, tanpa batasan usia, baik individu maupun kolektif. Setiap pelamar hanya berhak mengajukan satu lamaran karya.
  2. Karya yang diajukan mengacu kepada tema dan sesuai dengan ide dasar dari Jogja Fotografis Festival.
  3. Karya-karya yang dapat diajukan tidak terbatas pada medium fotografi. Jogja Fotografis Festival mendorong praktik-praktik disiplin lain, bahkan juga praktik lintas disiplin, yang dapat mengemukakan gagasan seputar pendekatan perspektif fotografis dan tema MATRIKS yang dimaksud.
  4. Persyaratan lamaran:
  • Konsep karya yang sesuai dengan tema, maksimal 400 kata
  • Image karya
  • Sketsa rancangan presentasi termasuk detail media presentasi
  • Portofolio dan CV singkat
  1. Kelengkapan proposal di atas dijadikan satu berkas, dengan format PDF berukuran maksimal 10MB, dan unggah file tersebut dalam form registrasi https://bit.ly/OpenCallJOFFIS2024, SEBELUM Jumat, 31 Mei 2024, pukul 23.59 WIB.
  2. Karya dan proposal karya yang terpilih akan diumumkan pada Selasa, 7 Juni 2024.
  3. Karya terpilih akan mendapatkan dana produksi atau fasilitas produksi dari tim penyelenggara. Karya terpilih hanya akan digunakan untuk kebutuhan pameran dan publikasi acara Jogja Fotografis Festival. Hak-hak yang melekat pada karya tetap menjadi milik seniman.

JOFFIS - Jogja Fotografis Festival is an international photographic festival organised by Ruang MES 56. The festival will be held in Yogyakarta on August 19th-September 2nd, 2024. The idea of the festival is developed on the need of a broader understanding about photography; both in practice and in theory, as well as in public daily life and in intellectual discourse.

The broader understanding of photography (the festival uses the term ‘the photographic’) will open domains and debates that seem to have been excluded from photography, which then can lead to findings of photography as perspective and method that has its own aesthetic power. This approach is needed to push the emergence of new talents and new subjects, which in turn will push the development of photographic discourse and market, as an important part of the art industry in general.

As an idea, ‘the photographic’ can also be found in artistic practice within other mediums, such as fine art, performing arts, even literary art. It is hoped that the photographic practice in other artistic mediums is not merely borrowing photographic products as a complement or supplement to the work. On the contrary, the photographic perspective can actually be used as an authoritative artistic method and aesthetic element.

 
Theme: Matrix

After the first edition of Jogja Fotografis Festival with the theme “Frame” was held, in 2024 JOFFIS entered the second phase in the series of themes of 3 initial editions of the festival, namely “Matrix”.

Generally, in photography, the lemma matrix refers to a way of framing an object with a certain approach using the help of row and column dividing lines, internal aspects of the camera (exposure triangle), and external aspects of the camera (camera position in front of the subject/object). Using this matrix helps the photographer experiment and look for important points in framing the subject/object. Therefore, the matrix is not imposing boundaries through arrangements, but rather bidding for the subject’s awareness of the world he/she is looking at.

The above definition is intertwined with the social domain, where the social matrix lemma emphasizes the mapping of all intersections that occur in the background; that the socialization (values, norms, beliefs, and so on) that individuals receive throughout their lives will affect how they behave and act in their environment. For example, how do we view the projection of the world map when we know that the process of its compilation by Gerardus Mercator was closely related to colonial domination, in which the Northern hemisphere was depicted as larger than the South? How does the matrix of colonial power work in this landscape? Or, another example that is closer to our daily lives: social media. How do we determine objective truth in the fast-paced circulation of information when algorithms using consumption patterns on the internet lead us to the trap of subjective truth?

On the other hand, matrices have an important role in defining the context of data, for example in geology and archaeology. The term matrix is used to refer to a ‘house’ or ‘lump’ that contains minerals or artifacts, either rocks or soil. The matrix, then, is related to the arrangement or organization of knowledge with context, thus suggesting the entanglement of various aspects in the production and dissemination of knowledge.

Based on this landscape, it can be interpreted that the matrix as a spectrum can be expanded and linked to any domain; such as the knowledge matrix, power matrix, cultural matrix, geological matrix, archaeological matrix, and so on. So, the matrix as a way of realizing and mapping that something is working behind us to then influence our perspective on the world we are looking at, emphasizes the aspects of, a) what shapes ourselves or the world today? b) why is it important to be aware of our position amid the cacophony? c) how can negotiations be carried out over it?

Meanwhile, the theme “Matrix” in this edition seeks to dissect and map the intersections between domains that affect the subject and is presented in a photographic framework. JOFFIS 2024 invites any artist or practitioner to critically reflect on what and how this world is shaped and works; ultimately how the subject positions itself in the midst of this world where everything is.

Works or projects presented in Jogja Fotografis Festival are expected to fulfill the following two criterias:

— Demonstrate photographic practice as a perspective, both in its subject selection and artistic practice; and
— Discuss the theme of MATRIX in its breadth of meaning and interrelationships; matrix as a visual representation of relationships, structures, tables, data organization, maps, algorithms, and networks translated into the subject of the work, as well as matrix in the artistic aspects and production of artworks.
 
 Terms
  1. This call is open to the public, both from Indonesia and abroad, without age limits, both individuals and collectives. Each applicant is only entitled to submit one application.
  2. The works submitted should refer to the theme and follow the basic idea of Jogja Fotografis Festival.
  3. Works that can be submitted are not limited to the medium of photography. Jogja Fotografis Festival encourages other disciplinary practices, even cross-disciplinary practices, that can put forward ideas around the photographic perspective approach and the MATRIX theme.
  4. Application requirements:
  • Concept of work following the theme, maximum 400 words
  • Image of work
  • Sketch of presentation design including details of presentation media
  • A Portfolio and Brief CV
  1. The complete proposal above is made into one file, in PDF format with a maximum size of 10 MB, and upload the file in this registration form: https://bit.ly/OpenCallJOFFIS2024 Before Friday, May 31st, 2024, at 23:59 GMT+7 (West Indonesia Time).
  2. Selected works and proposals will be announced on Tuesday, 7th June 2024.
  3. Selected works will receive production funds or production facilities from the organizing team. Selected works will only be used for the exhibition and publication of the Jogja Fotografis Festival. The rights attached to the works remain with the artists. 

Foto/Photo: JOFFIS 2023 exhibition documentation